Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Senyum manis di balik kain putih


Kala sang surya
Menampakkan wajah penuh roman
Seperti oval wajahnya
Seperti sebongkah mutiara yang tersimpan untuknya
Ku tak tahu mengapa?
Cermin dirinya
Memantulkan warna penuh makna
Merekam cerita terkubur tumbuh subur
Dalam merah hatiku

Masih tampak
Senyum manis
Tersembunyi dalam balik kain putih
Mungkin karena ia atau apa?
Setiap kalimemandang
Terbias cinta sayang yang mendalam
Yang tak kunjung padam
Termakan waktu dan menuanya zaman
Atau karena…?
Gaya bicaranya yang menawan

Masih tampak senyum manis itu
Terpendam seribu makna
Arti dan bahasa
Ku tak tahu harus apa?
Melepas atau memendam dalam merah hatiku
Untuknya yang masih tersembunyi
Di balik kain putih penuh makna
(29/01/01)

Komentar

Postingan Populer