Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Keluargaku













Dulu kau sangat harmonis
Banyak tawa
Senyum
Bahagia melihatnya

Disaat kini
Kau telah beranjak tua
Banyak prasanka
Tak ada kepercayaan
Diantara mereka

Memang itu kusadari
Mungkin ini sebuah cobaan
Rintangan
Yang harus dihadapi
Oleh kita bersama
Yang harus dipecahkan
Terselesaikan

Ya Alloh ya Tuhanku
Kabulkan doaku
Kembalikan keluargaku
Seperti dulu
Keluarga bahagia
Yang amat kucintai dan kusayangi
(5/11/99)

Komentar

Postingan Populer