Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kutipan Bertenaga 14 - Hasan Aspahani

sumber gambar: www.thegraphicsfairy.com

Sainte-Beuve di abad ke-19 pernah mengatakan bahwa dalam diri setiap manusia ada jiwa penyair yang keburu mati muda. Artinya, ketika mulai menyukai sajak lagi, ketika kita ingin bisa menulis sajak, ketika kita ingin tahu banyak tentang sajak, sebenarnya yang terjadi adalah si penyair yang mati muda dalam diri kita itu sedang hendak hidup lagi, sedang bangkit kembali.

Saya lebih percaya, bahwa penyair dalam diri kita itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya mati suri. Hiatus. Ia seperti putri yang tengah tertidur dan menanti kecupan seorang pangeran agar ia bisa bangkit kembali.

Dikutip dari Buku Menyentuh Jantung Bahasa Meraih Hati Puisi, Esai-esai Sebelas Paragraf karya Hasan Aspahani

Komentar

Postingan Populer