Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Bunga


Sore itu
Kulihat bunga ditaman itu
Jauh, tapi wanginya serasa dekat
Sedekat urat nadiku
Yang mengalirkan darah ke seluruh tubuhku

Ku dekati dia
Bermahkotakan putih
Putik benang sari
Begitu indah
Ke dekatkan tanganku kepadanya
Hingga terasa tangkai-tangkainya
Menyentuh hatiku

Akupun terduduk diam
Serta kupandangi dia
Tanpa memalingkan mata
Sedikit pun saja

Bunga,
Kau milik siapa?
Benar tersentuh hati ini
Ingin kupetik kubawa pergi engkau
Aku jadikan rangkaian bunga
Yang memberi makna
Di setiap bait kata hidupku
(Sda, 13/4/02)

Komentar

Postingan Populer