Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Cinta Aidelluis


Cinta aidelluis bukanlah paras
Cinta aidelluis bukalah elok tubuh
Cinta aidelluis adalah kesungguhan hati
Untuk menerima mekar layu
Pesona buruk
Bersemi dan gugur dirinya

Karena cinta aidelluis
Tumbuh dari dasar hati
Bersemi
Dari tingginya puncak gunung
Yang tak kan pernah tercapai olehmu
Meskipun kau gapai dengan tanganmu yang putih
Bersama derasnya peluh
Mengalir dari mata dan tubuhmu
Tapi tetap saja tak kau gapai

Karena cinta aidelluis
Tumbuh dari ketinggian hati
Yang ditiup oleh kuasa-Nya
Dan tak kan pernah kau mengerti
Olehku,kau dan dia
(Sda, 17/7/02)

Komentar

Postingan Populer