Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Engkau dimana


Kau dimana?
Dunia fana telah menjatuhkan layarnya
Hilangkah engkau di tepian dunia
Tidak, sedetik masa kau di pelupuk mata
Kini, dirimu tak membebaskan telapak padang dunia

Kau dimana?
Akan kucari engkau di neraka
Ku selami bersama api membara
Bersama lelehan air mata
Yang tak akan terucap
Walaupun telah lama menggenangi tubuhnya
Akan kucari engkau di surga
Akan kuselami sungai lautan arak
Yang memabukkan jiwa dan raga
Bidadari-bidadari merayukan kenikmatan nyata
Tapi tak penah aku terjaga olehnya

Satu untuknya
Akan kupersembahkan untik ridho-Nya
Untuk dampingi tubuhku
Yang telah tak berupa
(Sda, 17/5/02)

Komentar

Postingan Populer