Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Aura


Kau sebagai dewiku
Yang memikatku melalui bisikan kasihmu
Membawa terbang
Rohku pun melayang diantara puing-puing zaman
Perjalanankan panjang
Penuh duri kian menajam menikam
Menyayat tubuh penuh darah dan luka

Tetapi , sinar matanya
Memapahku dengan belaian selendang nan menawan
Hinga perih tak tertahankan
Menjadi aura kekuatan
Menghantam hancurkan duri berserakan
Menjadi lenggang jalan bersama dewi tersayang
(Sda, 9/4/02)

Komentar

Postingan Populer