Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Persahabatan












Pertama kali bertemu
Tiada yang menarik dalam dirimu
Saling acuh sama lain
Tak ada kepercayaan

Waktu terus berjalan
Seiring dengan kebersamaan kita
Saat itulah tumbuh rasa,
Rasa saling percaya
Rasa kekeluargaan

Kini arah berbalik
Takdir akan memisahkan kita
Ingin hati selalu bersama
Tapi apa daya tangan tak sampai
Persahabatanku tak akan berakhir
Hanya karena beda tempat berpijak

Meskipun jauh dimata
Tapi hati yang merasakan
Tak akan kulupakan cerita
Tentang kita, love tiga dua
(16/6/99)

Komentar

Postingan Populer