Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Sentuhan simpati


Pertemuan itu
Telah berlalu
Minggu bulan yang lalu
Membekaskan simpati dalam diriku
Meskipun sekejap kutatap matamu
Telah kuketahui sebagian rahasia di matamu
Yang mempesonaku
Yang membakar tapi tak menghanguskan

Aku terjebak dalam lorong-lorongmu
Tubuhku remuk redam dalam teror kamarku
Mencekam dengan dering-dering rinduku
Pastikan itu suara dewiku

Kumohon
Sudah jangan rayu aku lagi
Sudah mencair ini nyali
Tak berkutik menghadapi
Senyuman tatapan suara dewi
Tenggelam lautan surgawi
Menarik nafas dalam sentuhan simpati

Sekali lagi
Jangan rayu aku lagi
Kan kuserahkan pasrahkan hati ini
Kepada dewi
Yang memikat kasih(Sda, 30/5/02)
(Sda, 30/5/02)

Komentar

Postingan Populer