Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kenangan dia


Masih teringat malam ini
Saat kunikmati paras wajahmu
Kugenggam tangan bersama indah matamu
Dihangatkan lilin-lilin
Yang menerangi malam membisu
Meyaksikan indahnya hatiku hatimu
Seperti cerahnya hari
Menghangatkan pagi
Memekarkan bunga-bunga melati yang mewangi

Lamunanku telah hilang
Bersama jam yang melayang
Semakin tubuhku merapuh
Saat ku kenang kau dalam bayangan
Jejak langkahmu
Lembut bibirmu
Parau suaramu
Hangat pelukmu
Ku tulis dalam buku harian
Lama atau sebentar saat-saat bersamamu
Menorehkan garis cerita hidupku
Biar,biar ini ku kenang dalam kenangan
Pedih dan bahagia memang sulit dipisahkan
Kan ku ukir namamu dalam hatiku yang paling dalam
Dalam dan tak kan hilang
Bersama kandasnya zaman
(Sda, 14/7/02)

Komentar

Postingan Populer