Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Sang Naga















Berabad-abad itu
di kota-kota yang penuh kecemasan
ketika kekuasaan menjelma menjadi sesosok hantu
sebentar tampak, sebentar hilang
kemudian lidah-lidah ditiang gantungan

Sang naga adalah roh yang bangkit dari doa-doa malam
suara rentah yang terdengar dari kolong ranjang
menghibur sunyi kepada tembok-tembok ratapan
menyambut pagi seperti menyambut mati

Aku katakan kepada engkau yang tinggal di kastil-kastil kenistaan
mana janjimu yang kau bisikkan selagi aku memujamu
memanggulmu untuk kutunjukkan kepada mereka:
“Inilah tuanmu yang akan mengurus sungai-sungai kering,
panen-panen yang gagal, anak-anak kita yang bodoh, mereka yang terkena lepra”
tapi rupanya engkau berdusta, engkau telah lupa
engkau terlelap dalam bantal dan air liurmu

Hidup ini bukanlah kepunyaanmu saja, tuan
meski sebagian darah dari tubuhku kupasrahkan kepada engkau
tapi aku masih punya nyali mengarungi badai-badai
aku cinta hidup ini, seperti memeluk istri anak dan cucu

tubuh ini apalah bagimu yang berujung pedang dan tombak
tapi ingat, aku adalah sang naga
aku akan berkelana ke dalam mimpi-mimpimu
menagih janji-janji yang pernah kau bisikkan kepadaku

(Malang, Mei-September 2005)

Komentar

Postingan Populer