Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Puing-puing keresahan






















Berlarilah!
Engkau wahai ketakutan
Melewati tengah laut
Puing-puing keresahan

Terus berlari,
Dan berlarilah!
Merambah hutan
Menyisakan semak
Telapak kaki

Berlarilah!
Menyusuri jalan
Menyusuri aspal
Menyusuri makadam

Jangan pernah berhenti
Berlari.
Menyusuri doa
Menyusuri harapan
Impian
Ketakutan
Keresahan
Hah

Mati darah
Mulutku pun menganga
Bertekuk lutut aku dihadap-Mu

(Mlg, 13-01-04)

Komentar

Postingan Populer