Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Gadis kecil



(Gadis kecil
berlari lirih
dengan sepatu mungil
tawanya lepas berderai
menanti sesuap mentari)

Meskipun udara semakin tipis.pengap
terpolusi bau napas pendusta negara
anjing-anjing berdasi hitam
topi miring menutupi wajahnya
duduk di kursi empuknya
menggenggam uang mendengkur
dengan ludahnya

Kini wajahnya menggonggong
lidahnya panjang menjilat
bangkai-bangkai air mata
bangkai kepedihan kebusukan
bangkai kemanusiaan atas mayat bangsanya
mati terkoyak di tanah negerinya

(Gadis kecil
berlari lirih
dengan sepatu mungil
tawanya terhenti
menanti sesuap mentari)

Anjing-anjing berkumpul
menggonggong sahut menyahut
malam tetap menghitam
bulan mati terbunuh
hari menjadi tak menentu

Mari merayakan air mata ini
merayakan pemerkosaan atas kebenaran
dengan para anjing
mengonggong dan sahut menyahut

Semua omong kosong
hanya ludahnya menyemprot wajahku
menyemprot wajah sejuta gadis
yang tak tahu apakah esok masih bisa tertawa

Siapakah bisa dipercaya
siapakah bisa dipercaya
apakah engkau ,
jangan-jangan kau juga anjing
aku melihatnya.merasakannya
matamu hitam, lidahmu terjulur
lendir busuk
engkau anjing!
anjing!

(Gadis kecil
berlari lirih
dengan sepatu mungil
menangis
menanti sesuap mentari)

Maaf.
maafkan aku kawan
engkau bukan anjing
hitam awan disana
petir menyambar dan menyambar
hujan turun
kita sama-sama basah
untuk mengejar anjing berdasi hitam
pemangsa manusia
penikam punggung-punggung bangsanya

Mari kita lanjutkan perjalanan
menapaki hutan runtuhan keresahan
belati ditangan.pedang ditangan
fajar menyambut
merahkan jalan likuan panjang
sinari segala hitam dan ketidakpastian
lima tahun, sepuluh tahun melangkah
seumur hidup kita
seumur hidup kami

Memburu anjing-anjing
memburu ketidakadilan
memburu pendusta negara
penanggungjawab sejuta anak tewas masa depannya
engkau,
hai wakil rakyat
anjing-anjing berdasi hitam

Ketimpangan diatas dada kami
yang berdegup kencang
mentari tak kunjung datang
kami tidak bisa tinggal diam

(Gadis kecil
berlari lirih
dengan sepatu mungil
tersenyum
mengejar sesuap mentari)

(Singosari,25-01-04)

Komentar

Postingan Populer