Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kesenyapan Langit















Sejenak kukecap sebelingsat senja
Meskipun awan menggulung hitam mendekat pelan
Menuntunku dalam kesenyapan langit
Maka kurindukan dirimu ketika dunia tak lagi dipercaya
Kerinduan entah kapan lagi bisa dipuaskan?

Maka engkau berkata kepadaku:
Mengapa kau membiarkan mereka mencuci air matanya

Kesenyapan langit tak pernah membara.
tak butuh air mata mereka
air mata hanya pemberi paras ketidakberdayaan
menjelma kutukan-kutukan tak berkesudah
pedang-pedang para pengecut

Tak sanggupkah mereka menatap teror dengan senyum
Seperti engkau, aku, beradu mata meraut wajah meraut bibir
Tak sanggupkah mereka menatapnya
Seperti kedamaian embun yang memberimu roh

Kesenyapan langit
Aku datang kepadamu
Bersama orang –orang tak berair mata
melahap teror selezat kau lahap genangan basah dipipi mereka

(Malang, 3/10/2004)

Komentar

Postingan Populer