Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Berburu Hidup

















1
Waktu adalah kecemasan dan ketidakpastian
bayi sesegar minyak-minyak kasturi yang memabukkan
terlahirkan hanyalah coreng moreng dunia
mereka berkata: tak kutangisi.tak kusesali
roh-roh yang pernah di cipta untukku

2
pagi laksana emas
namun tak lagi dimiliki mereka
terperangkap kata-kata produksi, transaksi dan profit
jalan-jalan berjubel manusia
berburu rusa-rusa yang tak pernah dinikmatinya

3
berburu hidup adalah kepastian
maka katakan kepadaku: kematian bukanlah kebahagiaan
kebahagian hanyalah milik Tanios di tanah pelarian

(Malang, 29/10/2004)

Komentar

Postingan Populer