Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Pagi dan seekor pipit
















Senin pagi. dibawah selimut embun
dan parasnya menggodaku untuk melanjutkan mimpi
Seekor pipit bergumam tentang sepasang paruhnya yang basah
tercelup-celup ulah manusia

Selasa pagi. kubuka jendela kamarku terang-terang
masih tersisa senyum pipit yang liar
tapi kali ini gumam itu rapuh
serapuh serbuk yang tiada ujung untuk tumbuh

Rabu pagi. senyap telah menjadi
Seekor pipit itu hanya menyisakan sepasang jendela
Telapaknya terkulai tak bertepi
Karena seranting tepi tak lagi menjadi pijaknya
Yang ada hanya abu-abu hitam

dan kamis pagi. maka tak sekali-kali kutemukan jasadnya
Sepasang dupa ini biar mengantarmu ke surga
hanya itu balasku, sebentar lagi ajal menjemputku

(Malang, 27/08/04)

Komentar

Postingan Populer