Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Menggapai besitan angin












Engkau aku namakan dewi
Dengan pahatan sempurna ilahi
Manusia menggapai
Kegetiran dunia menyatu diri

Selendang melayang diantara awan
Aku berlari menghela napas panjang
Engkau meninggi bersemilir keagungan
Aku berlari, terus berlari
Tak menghalaukan kegetiran dunia
Tapi engkau menjauh dan menjauh
Aku hanya bisa tersenyum

Ternyata engkau besitan angin
Berkelana membelai kulitku
Sejuk tapi tak lama
Dan kau pun menyelinap diantara awan
Menari dengan senandung aura biru

Aku ingin memanjat engkau
Hai…besitan angin
Menari bersama diantara kegalauan
Tetapi dunia menarikku, aku tak kuasa
Mereka memanggilku
Tetapi engkau hanya memandangku
Aku hanya tersenyum
Menahan kerisauan kegetiran
Sebagian ruang di dalam tubuhku
Dunia menamakan perasaan
Yang meruntuhkan seorang Julius Caesar

(Mlg, 1/1/04)

Komentar

Postingan Populer