Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kanvas-kanvas purnama


Kemarin aku melukis asa yang hilang
Merangkainya dengan balutan kuas
Kemudian berserak-serak

Entah kapan cat warna kembali menjadi asa
Karena sekarang sama-sama memenatkan
Terik hari tanpa matahari
Dan malam menjemukan berganti dan pergi

Siang ini
Terik tanpa matahari
Aku menemukan wanita hitam
Seperti bayang-bayang

Ia tersenyum kepadaku
Melambaikan tangan yang menghangatkan segala mesiu-mesiu
Seperti malam disambut fajar
Yang memerahkan langit-langit
Sejuk dengan kesederhanaan alam

Kemudian aku tergugah pagi
Bayang-bayang itu hilang
Aku beranjak dari ranjang
Berlari dan tergagap-gagap

Maka kutarik tanganmu
Diatas kanvas-kanvas dan cat warna
Seruas-seruas
Hingga merona seperti purnama
Hingga senyum menoreh di bibirmu
Tiada henti apalagi letih
Semoga.

(Malang, 22/05/04)

Komentar

Postingan Populer