Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kose














1
Kalimat-kalimat terasa begitu pendek
dan kisah hidup hanya bisa ditulis satu halaman. Itu pun tak penuh
kelahiran, kanak-kanak, remaja, dewasa, paruh baya, kakek-kakek dan kematian
semua tertulis rapi dalam sebuah paragraf-paragraf yang bersayap
meski sekali waktu koyak

2
Hidup terasa seperti novel yang dicipta oleh-Nya
yang kubaca selembar di jalan-jalan
selembar lain di stasiun-stasiun
terkadang selembar lagi di terminal-terminal
semua kucatat dengan tinta warna
kemudian kuserap dan mulai menulis kisah panjang
yang disetiap hurufnya adalah cahaya
tapi mendadak redup kala waktu-waktu menyambutku

3
Aku seperti orang gila
yang tertulis didahiku sebuah kata esok
tapi ku tak mampu membacanya
hanya cermin-cermin yang diletakkan di delapan penjuru mata angin
yang dapat membantu mengejanya
“K” “O” “S” “E”
“Kose” begitu ejanya
Aku pun bergembira meloncat-loncat girang
berteriak dan berlari mengabarkan kepada kerumunan orang-orang yang berbincang
tentang pekerjaan, uang, istri, sebuah rumah, anak-anak, tentang mobil mewah
tapi mereka menatapku dengan cemas
aku pun menjadi was-was
kemudian muram

Malang, 16 mei 2005

Komentar

Postingan Populer