Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 8 : Pantai

Kekasihku, di pantai pertemuan
selepas dari kembara, kita istirahat sejenak
kita duduk bersampingan memandang langit
bersiap kembara lagi entah kemana
--ke darat ke laut
meski sama-sama dipayungi langit
memilih adalah debar
dan juga cemas
siapa yang bisa berkata disana ada taman
meski tak selalu surga –

di pantai kita membuat puri
dari sekumpulan pasir yang berwarna
di dalamnya kita membuat teka-teki
- atau teka-teki sudah ada sebelum kita bertemu-

Di dalam puri, ruang pertama,
tergantung lukisan sepasang kekasih yang tersenyum

di tikungan tergeletak pisau berlumuran darah

di ruang kedua yang luas, tumbuh ilalang
angin pelan datang bersama bunyi seruling

kemudian di lorong-lorong gelap
tergantung boneka-boneka di langit

berhenti di taman meranggas
dua pasang bibir tak pernah bertemu
berkejaran seperti kupu-kupu

di kamar berwarna terang
seorang kakek berjenggot lebat
membaca puisi tanpa henti

memandang langit
busur panah tiba-tiba melesat
matahari merekah seperti kuncup melati
menggeliat di waktu pagi

tiba di kamar berwarna senja
musim gugur datang
daun-daun letih
jatuh diayun angin yang menangis

Kekasihku, cukupkah itu
bekal buat kita kembara lagi
atau kita hanya puas bermain teka-teki

Singosari, Oktober-November 2005

Komentar

Postingan Populer