Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 18: Diam

Kekasihku, mengapa bibirmu menutup rapat.
mengkerut, serupa menahan kentut.
tapi bukan berarti diam. pada matamu meloncat megaphone.
seperti hendak berlari, kemudian datang dimukaku:

(+) Aku adalah Monalisa. tolong pandang aku.
catat senyum dan poseku. kalau perlu ambil kamera,
potret aku. sebab tak sengaja kuminum sesirup sepi,
yang mengetuk pintu. ia mengendap, tiba-tiba menyergap.

(-) Maaf, sebentar, aku masih sibuk membakar kemenyan.
meramal mimpi pada asap. menghitung angka-angka
keramat. menafsir dan menakar bibir. biar besok sudah
kutemukan jawab, pada senyum yang tersungging.

Mei, 2006

Komentar

Postingan Populer