Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 14: Api

Kekasihku, aku telah datang ke rumahmu.
sudah lama aku tak berkunjung. terakhir,
mungkin seabad yang lalu.

“duduk dulu”, itu katamu. seperti biasa
aku memilih sofa panjang, biar aku dapat
merebahkan badan. membuang lelah yang
bersarang seharian, sambil menunggu
secangkir teh dan wajah oval serupa keramik.

kemudian, tiga puluh menit lewat tiga detik.
ada asap, aku berteriak, “kasih, tolong…,
sofamu jadi api, mejamu jadi api, rumahmu
jadi api.” setelah itu kau datang. “wajahmu api,
matamu api, apakah perasaan dan pikirmu
juga api?”, gumamku. katamu, “tak usah takut,
tak usah cemas, nanti kau juga terbiasa.”

maret-april 2006

Komentar

Postingan Populer