Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 17: Kekasihku yang lain

Kekasihku, maaf, malam ini ku tak dapat
mendongeng untukmu. berarti tak juga dapat
menyisir rambut ikalmu. sebab aku sedang
tergoda, periksa segala sudut dunia: gudang-
gudang, dapur, kamar tidur, ruang tamu,
beserta kamar mandinya, lengkap juga dengan
kolam ikan dan air mancurnya. setelah itu ku ubah
jadi sajak, juga lagu.

mmm, jangan salah sangka. bukan ku tak sayang lagi.
tetapi kekasiku bukan hanya kamu, ia sedang menunggu,
ia bernama: nona imaji.

April 2006

Komentar

Postingan Populer