Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 5 : Momok*

Kekasihku, aku bertemu kerang-kerang sungai
yang mengajakku berdansa sepulang sekolah,
setelah itu aku selalu cemas untuk pulang ke rumah
aku takut momok, kata nenek: ia datang bila aku suka bermain di sungai
tapi aku menyelinap, kemudian secepatnya tidur
berharap bunda memelukku, mengusap-usap rambutku

Entah mengapa, momok itu selalu tahu
ia datang ke kamarku dengan baju hitam berkibar
wajahnya menampakkan kemarahan yang berkobar
dihadapku ia bergemuruh meneriakkan bahasa-bahasa yang tak kukenal
aku takut
aku menangis
aku hanya ingin memeluk bunda
aku hanya ingin memeluk engkau
kekasihku

Cat* momok adalah sejenis hantu, namanya biasa dipakai oleh orang tua untuk menakuti anaknya bila menangis atau susah diatur

September 2005

Komentar

Postingan Populer