Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 4 : Taman Rahasia

1
Kekasihku, kita selalu menunggu waktu, kemudian menyelinap ke taman rahasia
meski kita tahu orang-orang tua selalu berpesan untuk tak ke sana
tapi kita begitu bergairah bila mendengar kisah taman itu

Saat itu entah, kita berani melanggar petuah-petuah
mengunjungi dengan debar imajinasi, dihadapan taman itu kita terpukau
engkau dan aku tak dapat berkata-kata
hanya dapat memandang menikmati segala kerahasiaan

2
Matahari rupanya telah tenggelam, burung-burung pulang menghiasi langit
waktu terasa pendek. Senyummu berubah menjadi keluh
Aku berkata kepadamu: “Apa yang menyebabkan wajahmu mendadak pucat?”
engkau berkata: “Kita telah lupa, bagaimana jika mereka tahu.
Bukankah denyut nadi kita adalah mereka?”
aku pun tak dapat menjawab
kita pulang berharap sesuatu tak terjadi

3
Kekasihku, aku merasa kita bengal
keluh dan was-was selalu terkalahkan dengan lecutan-lecutan purba
kita pun berkunjung lagi ke taman itu, untuk yang kesekiaan kali
membuka setiap pintu-pintu kerahasiaan dan selalu takjub
setiap hari selalu menghabiskan waktu
menganyam rindu atau bersandiwara selayak bocah-bocah

4
Kekasihku, aku bertanya kepadamu:
Di depan kita, apakah ini pusat dari segala pintu dari taman rahasia?
wujudnya dibaluri cahaya yang berpendar
bunga-bunga menghiasi tepinya
Kemudian aku mendekat, mendadak bunga-bunga itu tanggal dari tangkainya

Kunci pintu itu hanya terbuat dari sehelai rambut
bila aku mendobrak pastilah putus
tapi engkau menarik tanganku, kemudian menggeleng
engkau berkata: “Bunda pernah bercerita segala hal tentang taman rahasia.
pintu-pintunya, bunga-bunga yang mengelilinginya, begitu juga duri-duri yang tumbuh disana. Ia bercerita, dari semua pintu memang ada sebuah pintu, pusat dari segala kerahasiaan, meski kita dapat masuk dengan paksa, kita tak akan mampu menanggung prahara. Ia berbeda dari pintu-pintu yang lain, ia punya kode yang bisa ditawarkan.
Untuk saat ini kita tak dapat, suatu saat pasti kita mengunjunginya.”

September 2005

Komentar

Postingan Populer