Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 24: Mencatat Rindu

1
Musim belum juga berganti

2
benarkah kerling matamu tercipta oleh semesta jarak,
bilamana ia datang tanpa mengetuk pintu, berjinjit,
kemudian menyelinap dibalik rindu.

3
aku takut bertemu kau di pelabuhan kata
meski disana menyimpan gairah, tapi juga
tempat bermukim para hantu. mereka suka
mencuri pesan-pesan kita, kemudian menukarnya
dengan kabut hitam dan jarum hujan.

4
rindu, benarkah adalah rasa cemasmu
hingga kau tak rajin lagi menungguku di ruang tamu
tempat kita dulu pertama kali bertemu
kemudian sepakat mengikat pilu

bukankah telah kukirim baju berbulu,
biar kau sibuk bercermin dan menyisir rambut ikalmu
dan tak lupa dimana letak bibir dan mataku,
tapi memang itu tak cukup ampuh buat menipumu,
dari kegemaranmu berburu api dan mencari namaku
ditumpukan asap.

5
kemudian kau membisikku,
“kapan kita akan bertemu lagi, aku tak mau
dipermainkan waktu hingga rambutku membiru”
“apakah jumpa melegakan kau dari nyeri rindu,
yang membuat lubang didadamu terus membesar
dan aku harus menambalnya setiap waktu”, balasku
kau pun mengangguk pelan.

Sidoarjo, Juni 2007

Komentar

Postingan Populer