Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 13: Sepasang bibirmu

1
Kekasihku, saat kembaraku tak lagi menghidangkan sepercik lampu,
tak juga bohlam 5 watt buatan bunda
apalagi neon yang bertumpuk dalam buku-buku
yang ada hanya sepasang bibirmu yang telanjang
berkepak denganku dalam kehangatan purba

2
kemana engkau pergi?
masih kuingat rambut merahmu yang ikal
tertiup angin ketika kau memetik jambu
di sebuah taman berkolam susu
dengan gemintang dan pohon-pohon yang berakar pada awan
kita iseng belajar pada sepasang rusa yang bercinta

3
sekarang aku adalah pohon kamboja
dibawah pohon bambu, kunang-kunang
gemerisik angin menabuh batangnya
jangkrik katak melompat, semak-semak
dedaunan jatuh, bibirmu rapuh menjadi debu

4
aku berjumpa dengan seorang lelaki, bersarung, berkopiah
di makam ia memunguti dedaunan
kemudian aku bertanya:
“apakah engkau melihat seorang perempuan berambut merah ikal?”
ia menjawab: “ia sudah lama menunggumu
setelah memetik jambu, ia selalu menangis
memanggil-manggil namamu
di kamar mandi ia bercermin
menyisir rambutnya yang basah
sembari meraba-raba tulang rusuknya
kemudian ia berbisik:
“aku rindu engkau, kekasihku
tak lagi pada sepasang bibirmu””

Singosari, Januari 2006

Komentar

Postingan Populer