Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 10: Khotbah

Kekasihku, aku hanya ingin memandangmu
serupa kepak sayap seekor kupu-kupu
menari sepanjang rawa sampai sabana
biar aku tak tergoda menjadi seorang nabi
bukan turun dari langit tapi memanjat dinding
agar dapat berkhotbah di bukit wajahmu
membujukmu masuk dalam pigora
dan kugantung di ruang tamu

Kekasihku, aku hanya ingin memandangmu
serupa kupu-kupu
merpati
elang
atau pesawat

hingga kutemukan biji
disetiap kata yang selalu kusebut:
kekasih

Singosari, Desember 2005

Komentar

Postingan Populer