Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 2 : Pertemuan

Kekasihku, waktu-waktu tak sempat berbicara kepada kita tentang hal
apalagi berkisah seperti Qays dan Layla
atau bahkan mungkin berkisah bagai Gibran dan Selma
yang kisahnya penuh sesak airmata, ketidakberdayaan, kerinduan yang panjang,
pertemuan-pertemuan rahasia, harapan-harapan yang tak berujung
tapi begitu mempesona

Pertemuan kita, tidak! waktu tak sempat menyusun kisah
kita begitu saja diculik dari tidur malam
dipertemukan di pasar, sambil mengusap-usap mata

Kekasihku, apakah kita akan menggugat waktu
yang selalu sibuk dengan esok dan masa lalu
untuk sebentar mengukir pertemuan kita?
engkau pun menggeleng dan tersenyum

September 2005

Komentar

Postingan Populer