Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 15: Kisah om No, aku, dan keraguanmu

1
Kekasihku, siapa tuan dalam tubuhmu,
yang buatmu jadi api. mungkinkah
kau terbuat dari api? sperma ovarium api.

padahal telah kau kunyah kepala dan kisah
om No, yang dihidangkan gratis untukmu.
ku lihat kau begitu menikmati, serat-seratnya
tak tersisa. belum kenyangkah? tidak, tidak,
jangan kau berkata, “kata-kata itu sudah ku
simpan dalam lemari, ku tutup rapat-rapat
biar ia tidak pergi, tapi saat ku butuh,
ia sudah menjadi abu”

pantaskah aku berkata, “aku adalah lelaki,
rumah dan kamar tidurku adalah perempuan”.
seperti pesan bunda untukmu, “saat pulang,
antarkan lelakimu sampai jalan, pandang ia,
sampai habis dalam tikungan”

2
Kekasihku, sajak-sajak ini telah kita susun
selama dua tahun lewat delapan hari. apakah
nanti hanya akan menjadi penghuni perpustakaan
kisah, yang hanya dibaca saat kita senggang
dan beranjak tidur. apakah kau ragu? bukankah
aku tak punya pilihan.

taman esok hari kita telah berbau api. tapi kita
seperti telah dicatat Tuhan, seperti adam dan hawa
menciumi dan memunguti bulir-bulir keringatnya
sendiri, yang lain, adalah malaikat dan setan
yang menggoda.

maret-april 2006

Komentar

Postingan Populer