Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 20: Coban*

Kekasihku, taruhlah tanganmu diatas tanganku, pegang erat,
jangan biarkan ia berkarat, sebab telah kita remah sebagian waktu,
yang penuh hujan duga, juga prasangka. Menafsir teka-teki tubuh
hingga jauh di retina mata kita

Di bukit-bukit pohon pinus. Jarum daun berlumut merah.
Kau dan aku mendaki tebing-tebing kisah, hingga di patahan
paling berbahaya. Merasakan angin lembut dan ringkih air terbang.
Mencatat setiap lengkung gulungan cuaca. Memberi tanda pada
perbedaan suhu udara. Biar kelak tercipta peta., penawar racun rindu
dan bisik rayu pohon jambu.

*Air Terjun

Agustus, 2006

Komentar

Postingan Populer