Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 11 : Ular Tangga

Kekasihku, waktu terus berpacu
tanpa atau dengan kita melakukan sesuatu
kita diseretnya tanpa sempat mengacungkan tanya
bahkan ia tak segan mengedor-gedor pintu
bila kita lupa merawat tubuh yang dipinjamkannya

Sejenak kita diperkenankan bermain ular tangga
setelah itu kulempar dadu, yang tersisa hanya cemas
berharap dapat melayang bersama tangga
tetapi tak segan ular datang menghempas
naik dan turun datang dan berganti
kita tak tahu kapan permainan bakal berhenti

Kekasihku, kemudian hujan datang begitu lebat
permainan tanpa jedah hingga kita dapat istirahat
beberapa orang menepi untuk berteduh
hingga ia dapat melihat mereka yang datang dan berlalu
sebagian lagi menerjang hujan tanpa takut
berlari
dengan atau tanpa payung
bersepeda
dengan atau tanpa mantel
bermotor
bermobil
berpesawat

Kekasihku, sekarang giliranmu melempar dadu.

Singosari, desember 2005

Komentar

Postingan Populer