Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 25: Memotretmu II

Sejak dulu, aku gemar sekali memotretmu. Hingga kau tak pernah tahu,
diam-diam aku selalu mengambil gambarmu, setiap waktu. Bahkan sampai
sekarang ketika namamu hanya bisa nongol di handphoneku, kemudian
mengucap: “lagi ngapain”. Saat itu kameraku tak pernah berhenti memotretmu.

Setiap selesai, foto-fotomu seringkali aku pajang di tembok kamarku.
Aku suka melihatnya satu persatu, sambil mengingat-ingat tuan waktu dulu
begitu cemburu bila kau bersamaku, hingga ia sering menyusupkan lidah apinya
di setiap pesan yang aku kirim kepadamu. Tak jarang ia menghasut dahan-dahan
pohon biar ia sembunyikan pesan kita dibalik daunnya, maka sejak saat itu
aku sering bertanya kepada angin bila kabar dari kau tak kunjung datang.

Kini, fotomu telah memenuhi hampir seluruh tembok kamarku. Sampai aku
hapal pose apa yang menjadi favoritmu, baju-baju apa yang sering kau kenakan,
latar-latar mana yang menjadi kesukaanmu. Tapi aku masih saja melihatmu
seperti kabut ungu. Bila begitu tuan waktu sering meledekku, karena tak becus
menjadi kekasihmu.

Sidoarjo, Agustus 2007

Komentar

Postingan Populer