Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 6 : Tebak-tebakkan

Setelah aku menjemputmu di taman kota
aku tahu, engkau tak pernah menanggalkan bajumu dihadapku
engkau lebih suka mengajakku bermain tebak-tebakkan:

aku bertanya: “apakah itu jilbab”
engkau menjawab: “itu pita
ah cincin
mungkin anting
gelangkah
tas
rok
mungkin juga baju
sepatu
celana”

setelah itu engkau berlari,
beriku secarik kertas jawaban

Kekasihku, apakah perempuan memang demikian?

September-November 2005

Komentar

Postingan Populer