Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2007

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kose

Candu

Sang Naga

Rahim

Berburu Hidup

Wujud-Mu

Kesenyapan Langit

Pagi dan seekor pipit

Saudah

Kekasihku

Pulang Kampung

Tepian Ranu

Mengingat kematian

As hati

Kanvas-kanvas purnama

Oase-oase

Pentas perempatan jalan

Pecahan mimpi

Gadis kecil

Puing-puing keresahan

Terasing pojok zaman

Ekspresionis emosional

Menggapai besitan angin