Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2007

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 25: Memotretmu II

Kekasihku 24: Mencatat Rindu

Kekasihku 23: Memotretmu

Kekasihku 22: Berjoget Dangdut

Kekasihku 20: Coban*

Kekasihku 19: Layang-layang

Kekasihku 18: Diam

Kekasihku 17: Kekasihku yang lain

Kekasihku 16: Menangislah batu

Kekasihku 15: Kisah om No, aku, dan keraguanmu

Kekasihku 14: Api

Kekasihku 13: Sepasang bibirmu

Kekasihku 12: Kabut

Kekasihku 11 : Ular Tangga

Kekasihku 10: Khotbah

Kekasihku 9: Biji

Kekasihku 8 : Pantai

Kekasihku 7: Halma

Kekasihku 6 : Tebak-tebakkan

Kekasihku 5 : Momok*

Kekasihku 4 : Taman Rahasia

Kekasihku 3 : Sajak-sajak kita

Kekasihku 2 : Pertemuan

Kekasihku