Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Transisi

1
Lamat-lamat terdengar angin menyisir
pohon-pohon bambu bergemeretak, daun jatuh

Aku memandang padi-padi bergelombang, bermain-main dengan angin dan pipit
petani berlari membawa carang*
berteriak: “husyah…”
pipit berhamburan
aku lelap dalam rerumputan

2
Tiba-tiba suara gemuruh membangunkanku
terik matahari buat telapak kakiku melepuh
kaosku basah dan bau
aku tak tahu,
aku dimana

Aku tak pernah melihat jalan-jalan pada terbang, menelikung panjang di cakrawala
Rumah-rumah mungil bercat biru berbaris rapi, tapi serasa tak berpenghuni
kemudian orang datang bersepatu hitam dan berdasi
aku tak mengenal ia, kuberanikan saja bertanya: “Bapak tahu rumah saya”
ia mengeleng, kemudian buru-buru pergi

Agustus 2005

Cat* carang adalah nama ranting pohon bambu yang diambil dari bahasa daerah penulis di Sidoarjo

Komentar

Postingan Populer