Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Hujan Pertama di Bulan Oktober

--Sebelum Hujan--
Musim selalu tanpa kabar
padahal telah berulangkali kita berkenalan:
di pohon berkambium doa
di langit berkode angin dan beburung
sampai kulit miniatur domba
biar kau berlabuh dan berteduh
merayu waktu
sampai gila statistika ramalan cuaca

pekarangan masih saja menengadah:
adakah kau rindu membasahiku

--Hujan--
Dengan payung mungilmu kau melambai
rimbun tebu
alang-alang berpipi merah
sinar matahari gontai menerobos awan,
sela-sela daun pepaya
parfum pekarangan yang menyengat
gadis-gadis kecil berparasut air

tapi masih saja ada yang cerewet meminta,
kecilkan derasmu sebab kau mengganggu pikniku!

--Setelah Hujan--
Aku rindu bermain hujan,
sebab sekarang hujan mahal
sekali datang suka mengaum tak karuan.

2007

Komentar

Postingan Populer