Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Best friends: Karya Tracing

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Title: Best Friends
Media: Sablon in T-shirt
Tool: Corel Draw
Event: Commercial Project, Tracing For Indah
Years: 2006

[Karya tracing ini sebenarnya berasal dari bisnis kaos kecil-kecil saya setahun yang lalu, tahun 2006. Kaos yang dibuat khusus untuk yang pesan. Niatnya utamanya buat menambah jam terbang dan skill, sekaligus berbisnis, meski untungnya tidak seberapa. Saya puas mengerjakannya. Tiga yang atas saya perbaiki tahun 2007 untuk dibuat wallpaper]

Komentar

Postingan Populer