Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Pohon kamboja

aku adalah anak pohon kamboja
lahir dari rahim para jenasah
ditemani kunang-kunang
yang tak berbicara satu pun kata
di sebuah lukisan yang tergantung di ruang tamu
lanskap lengkap dengan air mancur, merpati
lari anak-anak kecil, bunga-bunga rendah

ketika kata datang
yang kudapatkan dari kembaraku
mereka datang sambil menutup telinga
memanggil-manggilku bak seorang raja
setelah itu bunga kamboja merekah, di tubuhku

Singosari, Februari 2006

Komentar

Postingan Populer