Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 21: Kau Selalu Menyebut di Meja Rias Itu Ada Aku

Sejak kapan kau sering tidur di dadaku, memberinya
tanda garis-garis putus melingkar berwarna merah hati,
kemudian berucap “ini wilayah kekuasaan-perasaanku,
jangan main-main”, setelah itu kau tulis besar-besar didadaku:
“disini sedang digali, segera dibangun monumen meja rias dan sisirnya”.

Setelah mandi, kau selalu menjadikan aku cermin tua
berbentuk oval yang menempel di lemarimu.
“ini peninggalan ibuku, aku harus merawatnya baik-baik, ” rajukmu.
setelah itu mereka selalu menduga kita bersaudara.
wajah yang membuat aku serupa potret yang kau pamerkan diruang tamumu,
yang sering membuatmu gelisah dan membenamkannya didadamu

2007

Komentar

Postingan Populer