Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2007

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

History of War

Best friends: Karya Tracing

Design Lama, Awal-awal Mengenal Photoshop dan Coreldraw

Kekasihku 26: Cerita dari Blazer Hitam

Bersalaman

Hujan Pertama di Bulan Oktober

Bila kau punya kekasih yang terobsesi menjadi penyair

Pesan untuk bunda

Pria Bersorban Hitam

Merenung Perihal Pemilwa*

Oleh-oleh dari Pagelaran Wayang

Kekasihku 21: Kau Selalu Menyebut di Meja Rias Itu Ada Aku

Bapak

Pohon kamboja

Singgah pada sejarah

Jalan

Transisi