Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Saat cinta menyapa


Ah…cinta
Mengapa membuatku selalu muntah
Di depan taman bunga
Membuatku tertawa
Terbahak-bahak
Tersedu menderu
Dalam kepayahan hati dungu

Ah… cinta
Mengapa selalu ku sapa
Dengan sapaan mawar
Wangi
Berduri
Dalam kepedihan hati
Perih

Ah…cinta dewa dan dewi
Membuatku tersentuh
Di khayangan berdua
Tapi hanya buta
Cinta adalah anugerah
Butuh setetes darah
Yang diperjuangkan
Olehku,kau dan dia
Dan berkelana ke negeri khayangan
Ke negeri surga-Nya

(Malang, 21/10/02)

Komentar

Postingan Populer