Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Pasukan putih-putih


Bedug subuh bertalu-talu
Udara pagi menusuk tubuh
Dengan pegas di tangan
Dan tas diangkat di badan
Menyusuri jalan
Yang tidak pernah padam
Dari arti sebuah kehidupan

Nol lima titik tiga puluh menit
Pasukan putih berbaret keletihan
Berbaris
Sambil menahan gemetarnya bumi
dan suara sumbang
yang menamakan dirinya
sebagai penegak kedisplinan

Tas-tas telah diturunkan
Roti tawar, air minum
Buku tugas, koran
Dan segala tetek bengeknya
Diangkat dua tangan
Diva mulai berjalan
Wajah-wajah dajjal bersemayam
Satu, dua, tiga, empat, lima
Eksekusi dijalankan

Beterbangan
Melayang-layang
The trainer mengepakan sayap
Terbang diantara pasukan putih
Berbaret kepedihan
Sebagai malaikat penyejuk kramnya otak
Yang menampung segala senyum
Yang telah terbuang
Meskipun aku selalu diam
Menguap dan tidur.

Mlg, 31/8/02)

Komentar

Postingan Populer