Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Di atas kertopamuji


Kupandang langit
Pagi hari
Di lantai dua
Kost temanku

Kupandang gunung
Arjuna
Pagi hari
Di lantai dua
Kost temanku

Diantara kawat-kawat merah
Berkarat
Persegi
Terhampar rumah-rumah berserakan
Tinggi
Rendah
Antena TV kabel listrik telepon
Membujur
Menyilang
Seperti membelit mengikat
Kerto pamuji
Dalam sebuah rajutan tali
Jemuran lalu-lalang
Menghiasi rumah-rumah
Bertingkat
Berkibar
Tertiup angin kehidupan

Sebuah warna-warni
Riuh rendah
Kehidupan manusia
Dari atas lantai dua
Kost temanku
Yang harus direnungkan dihayati
Apa makna dari lukisan ini.

(Mlg, 7/9/02)

Komentar

Postingan Populer