Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Ijinkan aku kenalan dengan-Mu


Kemarin
Disaat sore membayang
Kemarin lusa
Seperti hal biasa
Sore mendekap senja

Aku memandang langit
Sore itu
Mewarna tanpa batas
Awan berbondong melintas pergi

Langit-Nya
Pertanyaan selalu bangkit dalam jiwaku
Menengadah menyibak biru

Apakah engkau disana
Bersinggasana surya
Bermahkotakan bulan
Berhiaskan bintang
Jauh, aku takut tak bisa bertemu
Selintas memandang-Mu

Hanya bisa membayang
Tubuhku mendekap tubuh-Mu
Merasakan hangat detak jantung-Mu
Melumat bibir merah
Merasakan wangi hembusan nafas

Tanganku meraba kulit indah
Putih membalut tubuh nan sempurna
Bergairah dalam kebahagiaan pelukan
Tiada henti, tiada batas
Mengisi kekosongan tubuh
mengalir menggenang
kesejukan
ketenangan

ketika senja berganti malam
keasyikan itu sirna
lampu-lampu menerangi kamar

Aku marah
Aku ingin kenalan denganm-Mu
Sekali lagi memeluk-Mu dalam sujud abadi

(Sgs, 10/8/03)

Komentar

Postingan Populer