Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Di kaki Tuhan


Gempuran ombak
Berjalan basah pasir berkeringat
Teriakan gelombang
Memaki hati
Merenung berdiri di kaki Tuhan
Hamparan mutiara
Tidak pernah diam
Menyaksikan jatuhnya tetesan keringat
Mencabik menyayat
Tubuhnya dan hatiku

Ah…manusia
Rumah pangkalan samudera
Diantara deru ombak dan nyanyian ikan
Bernafas berdiri sebalok kayu terpaku
Mendesah menarik
Demi ruh bersemayam di tubuh

Ah…manusia
Setiap keringat
Setiap desah
Selalu menjadi masalah
Mengesek ruang pikiran
Oleh perut yang tidak pernah diam
Terasah oleh riak gelombang
Tapi selalu kecil di kaki Tuhan

Semakin menjauh biru menatap
Semakin aku tak tahu siapa disana
Mengapa gelombang selalu berteriak
Semakin kecil aku di kaki Tuhan

(Sempu, 12/10/02)

Komentar

Postingan Populer