Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Dalam pelukan jemariku


Aku serigala malam
Berdiri diatas bukit terjal
Berlindung hangat cahaya bulan
Menyalak membakar mesiu-mesiu takdirnya
Melindungi bejana air menganga
Meniti embun dibalik daun
Di keheningan malam

Engkau mawar
Durimu meranggas
Mahkota hampir menghitam lepas
Air terjun menghempas bebatuan
Terjebak dalam hausnya sahara
Kering berontak melemah
Tanah meretak mahkotamu hampir berserak

Aku menyalak tajam
Mataku nanar
Pandangan kering kerontang
Berlari menyusup menepis debu
Meruai air mata
Di tengah gurun tangkaimu terkapar
Aku menerjang
Bawa engkau berlari
Ke bukit-bukit itu
Memandikan engkau di bejana air
Meniti embun
Wajahmu merona tersenyum
Aku melolong panjang
Hanya ditemani bulan senyap

Wahai mawar
Ingin ku bawa engkau berlari
Menembus waktu silam
Merajut benang-benang yang telah terkoyak
Tapi aku tak mampu
Aku hanyalah serigala
Yang hanya bisa menyalak dengan angin malam
Taringku tak seperti tangan perajut
Tajamnya hanya mampu mengoyakmu

Tapi slama engkau dalam pelukan jemariku
Tak’kan ku biarkan kau tumpahkan butiran air mata
Begitu juga engkau
Tak biarkan mereka melelehkannya untuk kesekian kali
Mengering sudah sungai-sungai yang mengalirinya
Oleh langkahmu
Merobek lembaran-lembaran pagi itu

(Sda, 21/7/03)

Komentar

Postingan Populer