Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Napak Tilas waktu

Yang Berkelok Yang Menukik, 18 Tahun Perjalanan The Sukudalu

Matahari, Koran, Pabrik Gula

Kutipan Bertenaga 14 - Hasan Aspahani

Setelah 13 Tahun Lumpur Lapindo

Kutipan Bertenaga 13 - Hasan Aspahani

Status, Selfi, Penerbitan dan Keberartian

Antologi Puisi Malam Puisi Sidoarjo 2017

Kata Dan Frasa Ajaib

Sajak-Sajak yang dimuat Koran Kompas, 30 Juli 2016

Catatan Hati : Kumpulan puisi yang belum beranjak dari gambar dua gunung, sawah yang menghampar, dan jalan yang membelah.

Malam Puisi Sidoarjo #2

Malam Puisi Sidoarjo #1

Kumcer Ladang Pembantaian Karya Eko Darmoko

Buku Meringkih Dalam Sunyi

Buku Puisi Tiga Postur Kota

Ruang Kata, Kamis 26 Februari 2015