Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kumcer Ladang Pembantaian Karya Eko Darmoko

 photo IMG_0975 copy_zpsljqyem5d.jpg

 photo IMG_0960 copy_zps6dhkkgrk.jpg

 photo IMG_0958 copy_zpsckfhzlwl.jpg

 photo IMG_0955 copy_zpsr4xhh8ek.jpg

 photo IMG_0954 copy_zpsnibpcdbg.jpg


Sebagai bagian dari pekerja pengrajin buku, apalagi saya juga banyak bekerja untuk terbitan Pagan Press milik S.Jai. Hal pertama yang menggelitik saya untuk berkomentar tentu saja perihal sampul buku. Ada sesuatu yang janggal, ada sesuatu yang tak pas pada intuisi visual saya.

Barangkali sepintas saya akan bertanya perihal pemilihan font pada judul 'Ladang Pembantaian'. Saya merasa font itu sudah bukan dirinya yang murni. Ia telah dipaksa secara brutal menjadi dirinya yang lain tapi tak berhasil. Secara urutan sampul itu mengarahkan pada tulisan 'Ladang', kemudian pada bulan pink dan kuning, kemudian pada menara eiffel. Baru pandangan ke hamparan seluruh buku.

Penanda-penanda yang tak sambung, barangkali pada ladang pembantaian dengan gambar besar pada menara eiffel. Seperti ada kesan bertabrakan. Sesuatu yang kejam bertabrakan dengan menara eiffel yang selama ini berkesan romantis. Meskipun sah-sah saja untuk mengutak-atik sebuah sampul dengan pendekatan apapun.

Secara keseluruhan sampul itu seperti bercerita tentang pembantaian sadis namun sekaligus manis juga. Sebuah kematian yang horor tapi sekaligus ada sukacita yang perlu dirayakan dengan romantis. Namun eksekusi visualnya gagal dan jatuh seperti buku picisan kalau boleh dibilang. Sekilas saya seperti berhadapan dengan sampul buku cerita-cerita horor remaja, Goosebumps.

Teks ketika telah menjadi buku maka ia akan menjalani panggung lain diluar takdirnya selama ini sebagai lembaran kertas atau sebuah file komputer yang bolak-balik dibaca oleh penulisnya sendiri. Teks dalam buku akan menjadi milik publik pembaca. Ia akan menjalani takdir dengan berbagai strategi untuk bisa sampai ke tangan pembaca, baik yang disadari oleh penulis dan timnya maupun tidak. Ia seperti penyair kamar yang akan membacakan puisinya di atas panggung. Ia akan didengar atau ditinggalkan.

Saya tak banyak membaca cerpen dalam kumpulan ini. Tentunya karena sedikit tak berselera dengan sampulnya yang membuatnya gagal merayu saya membuka lembaran kertasnya. Namun juga karena jawaban Eko Darmoko yang kurang memuaskan pengunjung ketika salah satu dari kerumunan menanyakan perihal sampul tersebut. Eko seperti lepas kontrol, kalau bisa dikatakan tak berkonsep untuk meramu bukunya secara lebih serius. Minimal sadar bahwasanya sampul adalah gambaran pintas pembaca untuk melangkah pada perbuatan membeli atau tidak. Melanjutkan membaca atau ditumpuk di meja buku. Eko seperti terburu-buru girang ketika kumpulan cerpennya sudah menjelma menjadi sebundel buku. Belum sempat memikirkan hal-hal lain.

Saya sempat membaca salah satu cerpen yang membikin penasaran. Berjudul Manifesto Surealisme. Namun saya kecewa lagi. Saya tak menemukan hal yang memuaskan. Cerita itu seperti ditulis dengan gaya eksperimen dengan cerita disambung-sambungkan secara kasar dan brutal tapi gagal. Dan judul itu seperti stiker yang ditempelkan di awal kalimat. Barangkali cerita lain dalam kumpulan ini akan lebih menarik. Namun sekian dulu saya bercerita.

_________________________________

Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menggelar launching buku cerpen 'Ladang Pembantaian' (Pagan Press, Juli 2015) karya Eko Darmoko. Hari Sabtu (22/8/2015), pukul 18.30-21.00 WIB, di galeri DKS, balai pemuda, jl gubernur suryo 15, surabaya.

Pembicara diskusi: Eko Darmoko (penulis), Rojil Buffon (Dosen Sejarah Unesa), Suryadi Kusniawan (Dosen Sastra Unipa). Moderator: Wildan Kekinian. Pembaca cerpen: Rendy. Musik: Arul.




Komentar

Postingan Populer